Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Connie Rahakundini Bakrie

ReviewReviewReviewReviewReviewFeb 1, '12 11:18 AM
for everyone
Category:Other
SUPREMASI PERTAHANAN UDARA VIS A VIS F16
Untuk memahami strategi pertahanan negara, selain persepsi dan skala ancaman, perlu juga dijabarkan apa saja konsep mendasar yang menjadi landasan dalam merancang sistem pertahanan negara. Konsep utama dan paling penting adalah pemahaman akan perang. Untuk perang udara yang menjadi salah satu ikon kekuatan utama perang masa depan, kekuatan pertahanan udara akan terletak juga pada kemampuan pengendalian udara yang mencakup: Supremasi udara (air supremacy) yaitu keadaan yang didefinisikan sebagai tingkat superioritas suatu angkatan udara di mana lawan tidak mampu mengintervensi secara efektif. Keunggulan udara (air superiority) yaitu keadaan yang didefinisikan sebagai tingkat dominasi oleh suatu angkatan udara untuk dapat melakukan operasi darat,laut,dan udara tanpa dapat dicegah. Terakhir, keadaan udara yang menguntungkan (favorable air situation) di mana situasi pertahanan udara masih sangat terbatas oleh ruang dan waktu sehingga dimungkinkan terjadi intervensi udara oleh musuh. Operasi pertahanan udara (hanud) terbagi atas hanud aktif dan pasif. Hanud aktif mencakup langkah-langkah seperti penggunaan pesawat, senjata langsung, dan tidak langsung pertahanan udara dan peperangan elektronik. Kegiatan dalam operasi ini meliputi deteksi (elektronis dan visual), identifikasi (elektronis, korelasi,dan visual),dan penindakan (pesawat tempur sergap,rudal jarak sedang,dan rudal taktis) terhadap ancaman kekuatan musuh. Hanud pasif mencakup semua tindakan selain pertahanan udara aktif, yang diambil untuk meminimalkan efektivitas tindakan musuh dan ancaman rudal.Termasuk antara lain kamuflase, persembunyian, penipuan, pemulihan, deteksi, sistem peringatan, serta penggunaan konstruksi pelindung. Dalam konteks ini, skala ancaman menjadi logika utama bagi pembangunan postur pertahanan udara yang sesuai dengan kondisi terkini untuk mengidentifikasi strategi penangkalan yang efektif di mana di dalamnya organisasi TNI, personel, dan kapabilitas alutsista berada. Ketiga komponen mendasar dalam postur pertahanan inilah yang akan menentukan sejauh mana negara siap melindungi segenap wilayahnya. Komponen alutsista dalam konteks ini menjadi faktor utama bagi kedua komponen lainnya. Karena itu,persoalan alutsista bukanlah persoalan yang mudah. Isu seputar transparansi anggaran hanyalah porsi kecil dari kompleksitas pengadaan alutsista. Ketika anggaran selalu menjadi fokus utama, masalah perencanaan kebutuhan alutsista yang sebetulnya menjadi sumber dari permasalahan sering menjadi terabaikan. Rencana Hibah Mencermati rencana beli hibah F16 C/D yang diriuhkan, kita harus mengaitkan pada perimbangan kekuatan udara kawasan. Dengan skenario hibah nanti akan ada beberapa jenis pesawat di kawasan di antaranya (1) F-16 C/D hibah yang dibekali radar APG-68(v) dengan kemampuan mencari 80 mil laut,(2) F-16 D+ Block 52 yang dibekali APG-68(v)9 dengan kemampuan mencari 160 mil laut, (3) JAS-39 GRIPEN yang dibekali radar PS-05/A dengan kemampuan mencari 160 mil laut, (4) SU-30 MKI yang dibekali NIIP N011M Bars dengan kemampuan mencari 173 mil laut. Jarak jangkau radar pesawat hibah kelak, jika dihadapkan terhadap pesawat negara kawasan, hanya akan mampu menangkap target di jarak 80 mil laut. Padahal, pesawat negara kawasan seperti F-16 D+ Block 52, JAS-39 GRIPEN,dan SU-30 MKI sudah mampu menangkap target sejak di jarak 160 Nm – 173Nm. Ditambah dengan teknologi IFF (Identification Friend or Foe) yang dimilikinya barisan pesawat kawasan telah memiliki interrogator sehingga apa yang tertampil di radar akan langsung terbaca sebagai lawan atau kawan. Keadaan ini menjadi lebih rumit di masa perang jika suatu hari tanpa terduga negara kita dihadapkan pada seranganudara. Jika kita asumsikan pesawatpesawat musuh adalah F-16 D+ Block 52, JAS-39 GRIPEN,dan SU-30 MKI, selain sudah menangkap target sejak di 160-173 mil laut, mereka dapat mengaktifkan kemampuan ECCM/ anti jamming, melaksanakan mekanisme notching. Hal ini akan dilakukan pesawat musuh untuk mencegah radar pesawat hibah menangkap posisi mereka hingga bisa lepas dari jarak tembak efektif misil Amraam atau R27RI di 40-45 mil laut. Permasalahan lain, 24 pesawat hibah kita yang terdiri atas double seater dan single seater rata-rata sudah mencapai usia 6.500 jam terbang sehingga yang akan tersisa hanya +1500 jam terbang. Mengingat time line delivery pesawat hibah kita pada 2014,ini akan menjadikan pesawat hibah hanya dapat digunakan +10 jam/bulan agar bisa digunakan hingga 2024, saat pesawat tersebut siap digantikan oleh pesawat tempur KFX kerja sama kita dengan Korea. Jumlah penggunaan jam tersebut sulit diwujudkan karena fungsi pesawat tempur kita memiliki tugas rangkap, baik sebagai pesawat latih, pesawat pengamanan, maupun sebagai pesawat pertahanan udara. Artinya, usia pesawat hibah akan lebih pendek dari 10 tahun dan akan terdapat jeda kekosongan kekuatan pertahanan udara kita antara usainya waktu penggunaan pesawat hibah dan datangnya pesawat KFX. Kemampuan untuk mengidentifikasi sisi kelemahan pertahanan udara kita terhadap ancaman merupakan langkah awal yang strategis dalam membangun kekuatan sistempertahanan dan postur. Mengingat persoalan kepentingan nasional tidak mengenal istilah KNM (Kepentingan Nasional Minimum), penetapan Minimum Essential Force (MEF) haruslah turun dari logika pembangunan pertahanan negara yang didasarkan pada identifikasi ancaman terhadap kepentingan nasional yang harus tetap terjaga. Karena itu, ukuran akan perubahan geopolitik kawasan, spektrum ancaman, kuantitas alutsista yang berkualitas, dan perimbangan kekuatan relatif menjadi hal terpenting yang harus digaris bawahi.Bukankah lebih baik kita memiliki lebih sedikit pesawat tempur yang memiliki kualitas perimbangan daya tempur relatif terhadap kekuatan udara kawasan dibandingkan mengedepankan kuantitas dengan segala keterbatasannya? Polemik pembelian alutsista TNI dapat dihindari dengan berpedoman pada grand strategy pertahanan, program pembangunan jangka pendek, menengah, dan panjang bagi kebutuhan satuan skuadron, kebijakan serta politik anggaran yang tepat dan tidak selalu memutuskan pembelian alutsista dengan orientasi keterbatasan, serta fluktuasi dan alokasi anggaran. Dalam mewujudkan kepentingan nasional, supremasi udara dan citacita TNI AU akan The First Class Air Force,pepatah telah mengatakan: Nervi Belli Pecunia Infinita, anggaran tak terbatas merupakan kekuatan perang itu sendiri. CONNIE RAHAKUNDINI BAKRIE Direktur Institute of Defense and Security Studies-Indonesia Maritime Institute Harian seputar Indonesia 26 January 2012


abituren wrote on Mar 1
ReviewReviewReviewReviewReview

sdikit komeng2 bu,,,
dukungan kekuatan udara sangat penting krna merupakan kekuatan yang diupayakan untuk dapat menguasai, mempertahankan dan mendayagunakan ruang udara serta seluruh potensi nasional aspek dirgantara. Oleh karenanya kekuatan udara pada masa perang, baik dalam wujud konflik berintensitas rendah, perang terbatas maupun perang terbuka merupakan kegiatan yang mutlak diperlukan untuk memperlancar operasi-operasi lanjutan dalam suatu rangkaian operasi militer. akan tetapi pengembangan alutsista bergantung pada anggaran ya, padahal kekuatan udara kita sangat dipengaruhi teknologi yang semakin berkembang, kekuatan udara kita kan produk teknologi terdahulu menjadi usang sehingga kekuatan udara kita menjadi menurun tingkat kualitasnya karena tidak mampu menyesuaikan kemajuan teknologi.

salam bu CRB...
rahakundini wrote on Mar 26

sdikit komeng2 bu,,,
dukungan kekuatan udara sangat penting krna merupakan kekuatan yang diupayakan untuk dapat menguasai, mempertahankan dan mendayagunakan ruang udara serta seluruh potensi nasional aspek dirgantara. Oleh karenanya kekuatan udara pada masa perang, baik dalam wujud konflik berintensitas rendah, perang terbatas maupun perang terbuka merupakan kegiatan yang mutlak diperlukan untuk memperlancar operasi-operasi lanjutan dalam suatu rangkaian operasi militer. akan tetapi pengembangan alutsista bergantung pada anggaran ya, padahal kekuatan udara kita sangat dipengaruhi teknologi yang semakin berkembang, kekuatan udara kita kan produk teknologi terdahulu menjadi usang sehingga kekuatan udara kita menjadi menurun tingkat kualitasnya karena tidak mampu menyesuaikan kemajuan teknologi.

salam bu CRB...
Saya setuju dan sangat sepakat Pak Abituren.... : )
Add a Comment
How would you rate this thing? (optional)
0 out of 5 stars
   

Premium Account

Connie Bakrie

  Hit Counter 
HTML Counter 
 
 
 
  Biographie succincte de Connie Rahakundini Bakrie

  Diplômé de lâ Asia Pacific Center for Security Studies à Honolulu - Hawaii (USA), Connie Rahakundini Bakrie enseigne la science politique à lâ Universitas Indonesia. Auteur de deux livres conséquents sur lâ armée et la défense indonésienne, elle est régulièrement sollicitée pour son expertise/analyse sur les questions de sécurité et de défense. Ses domaines de recherches portent sur les défis, besoins et problèmes de posture des militaires indonésiens depuis lâ avènement de la Reformasi en 1998.

 Defending Indonesia est le second livre de Connie Rahakundini Bakrie, publié en Février 2009 chez Gramedia Pustaka Utama et écrit dans la langue de Shakespeare. Son premier succès Pertahanan Negara dan Postur TNI Ideal (« De la Défense Nationale et la Posture Idéale de lâ Armée Indonésienne ») lui a valu une invitation de la Commission des Affaires Etrangères du Congrès Américain, ainsi que de la National Defense University (Washington D.C.) et lâ East-West Center, célèbre think-tank affilié au Président Obama.

 Appartenant à la troisième génération dâ intellectuels militaires indonésiens, elle est reconnue au sein des hauts responsables civils et militaires de son pays pour ses réflexions en la matière. Rahakundini est chercheur à l'Institute of National and Security Studies de Tel Aviv, Israël et membre de la Chevening Executive Programme for Democracy and Seucrity Subjects à l'université de Birmingham, en Angleterre.

 Elle partage ainsi sa vie entre Tel Aviv, Birmingham et Jakarta, accompagné de son mari le Lieutenant-General Djaja Suparman et de leurs enfants : Audindra, Deandra Azzaria et Aurelle Merkava.

 


 

 


   

 


  About Connie Rahakundini Bakri

  Connie Rahakundini Bakrie is a lecturer, analyst and a writer of two important books about Indonesia Military and Defense. She is well known because of her published analysis and articles on the challenges, needs and problems of Indonesian Military posture and capabilities building, due to the military reformation era in Indonesia.

 She is belong to the 3rd generation of security intellectuals in Indonesia, she is known as well versed in the thinking of top civilian and military officials of her country in such matters.

 She has delivered some important speech about Indonesia military, among other's in Washington D.C., at National Defense University (NDU) and The East West Center.

 Rahakundini is graduated from APCSS (Asia Pacific Center for Security Studies) in Honolulu, Hawaii, and currently she is a research fellow at the INSS (Institute of National Security Studies) Tel Aviv, Israel. She is also joining the Chevening Executive Program for Democracy and Security subjects at Birmingham University, England.
 
 
 
 
 
 
 
   


 


  site connie rahakundini bakrie ini diperuntukkan bagi siapa saja yang tertarik untuk bertukar pendapat, wawasan, pandangan, komentar, baik tentang militer indonesia (TNI), pertahanan negara, kekuatan negara, maritime security, nationalism security, energy security, globalisasi dan geopolitik
 
  terlepas dari masalah masalah tersebut, bagi yang mengagumi, menggemari, mendalami dan menyukai photography, selamat datang di site ini untuk membagi ilmu dan keindahan dunianya kepada saya...
 
  saya salah seorang pengagum dunia penuh warna tersebut dan seringkali masih sering ''tersesat'' didalamnya, sehingga, saya masih perlu banyak belajar dan menimba ilmu dari anda semua untuk mengabadikan dunia dengan segala keindahan serta suka citanya tersebut melalui "mata" yang lain, semoga berkenan....



salam manis,

CRB
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
  ' ISMAP